Berita
Pedagang Kembali Padati Area Pasar Lama: Perintah Relokasi Tak Digubris?

CE|Waisai- Pedagang yang berjualan di area bekas pasar lama (Mbilin Kayam) Kota Waisai, kini bertambah ramai. Ratusan pedagang telah memadati bahu jalan di sekitar pasar lama itu.
Salah satu pedagang, saat dijumpai di area pasar lama, mengaku bahwa ketika dirinya kembali membuka lapak, omsetnya bertambah dibandingkan dengan berjualan di pasar baru yang disediakan pemerintah.
“Untuk pendapatan per hari, jelas berbeda. Disini pendapatan meningkat, beda dengan waktu kami berjualan di pasar baru. Waktu kami berjualan di pasar baru, jualan tidak pernah habis dan kami rugi besar,” ujar pedagang tersebut, yang namanya enggan mau diberitakan,Sabtu (13/06/2025).
Sementara, Stevanus, salah satu pelanggan yang dijumpai saat itu juga mengaku bahwa dirinya tidak perlu repot-repot pergi jauh di pasar baru untuk berbelanja memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurutnya, berbelanja di Pasar Lama ini lebih terjangkau, lantaran posisinya tepat dalam kota sehingga mudah dijangkau tanpa membuang biaya lebih yang besar.
“Kalau kita berbelanja di pasar lama, naik ojek pulang balik sudah Rp 40.000, meskipun kita belanja hanya beli 1 ikat sayur kangkung. Saya pikir ini sangat sulit bagi masyarakat yang memiliki standar pendapatan di bawah rata-rata,” ujarnya.
Ia bahkan meminta pemerintah daerah agar mencari solusi, sehingga bisa mengatasi personal yang ada saat ini. Menurutnya, Kebijakan pemerintah daerah untuk merelokasikan pedagang ke pasar baru merupakan kebijakan yang baik, hanya saja harus dibarengi dengan solusi.
Kata dia, pemerintah daerah sebelum mengeluarkan kebijakan relokasi, harusnya memitigasi segala kemungkinan yang terjadi, termasuk persoalan yang terjadi saat ini. Pedagang merasa dirugikan, sehingga mereka akan berusaha mencari tempat yang dianggap bisa memberikan dampak keuntungan bagi mereka.
“Bagi saya, ini insting bertahan hidup manusia, tidak mungkin dia bertahan dalam situasi ketidakpastian ekonomi, apalagi dalam dunia usaha. Untuk itu, saya minta agar pemerintah daerah mencari solusi sehingga kebijakan pemerintah tak dilawan oleh pedagang,” terangnya.
Dia menambahkan, dengan kondisi daya beli yang semakin menurun belakangan ini, pedagang diperhadapkan pada dua pilihan, yang pertama adalah mengikuti instruksi pemerintah untuk berjualan di pasar baru, atau mereka menentukan arah sendiri dengan memilih lokasi strategis yang bisa dijangkau oleh pelanggan, sehingga tidak merugi.
“Kita bisa lihat sendiri saat ini, sebagian besar pedang lebih memilih kembali membuka lapak di pasar lama dan mengabaikan kebijakan pemerintah daerah terkait relokasi. Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan untuk mencari formula baru agar bisa mengatasi aksi protes para pedagang ini,” tandas Stevanus.