Published
6 jam agoon
By
Abi Ce
CE.COM, SORONG – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengungkap hasil pendataan perikanan melalui pendekatan Crew Operated Data Recording System (CODRS) di Perairan Kofiau-Boo, Kabupaten Raja Ampat, yang mencatat sedikitnya 198 spesies ikan dari 24 famili selama periode pendataan.
Program yang dijalankan bersama BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat dan nelayan lokal tersebut bertujuan menghasilkan data perikanan yang lebih akurat sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut.
Data yang dihimpun dari 15 nelayan mitra sejak Maret 2025 menunjukkan aktivitas penangkapan tertinggi terjadi di Kampung Balal, disusul Kampung Deer. Sementara aktivitas penangkapan di Kampung Mikiran dan Tolobi relatif lebih rendah.
Hasil pendataan juga menunjukkan bahwa jumlah tangkapan didominasi ikan pelagis kecil seperti selar bentong dan layang biru. Namun berdasarkan bobot tangkapan, cakalang dan tuna sirip kuning menjadi spesies yang paling banyak didaratkan nelayan.
Analisis sementara CODRS mengindikasikan bahwa stok ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang mulai mengalami tekanan penangkapan, sedangkan ikan karang berada pada tingkat tekanan sedang. Sementara itu, kelompok ikan pelagis kecil masih berada dalam kondisi yang relatif sehat.
Manajer Senior Perikanan Berkelanjutan YKAN, Glaudy Perdanahardja, mengatakan pendataan CODRS tidak hanya berfungsi sebagai alat pengumpulan data, tetapi juga membangun kesadaran bersama dalam pengelolaan sumber daya laut.
“CODRS bukan hanya pengumpulan data, tetapi juga membangun kesadaran bersama untuk mengelola sumber daya laut secara bertanggung jawab. Harapannya, data dan kesepakatan yang dibangun bersama masyarakat ini dapat menjadi dasar pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Salah satu nelayan peserta program, Yusuf Mayor, mengaku keterlibatan masyarakat dalam pendataan membuat mereka lebih memahami kondisi sumber daya ikan di wilayah tangkap mereka.
“Lewat kegiatan ini kami jadi tahu pentingnya menjaga kawasan agar hasil tangkapan tetap ada untuk anak cucu nanti,” ujarnya.
YKAN menilai kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di Raja Ampat.