Connect with us

Berita

Tak Mau Rugi Karena Daya Beli Melemah, Pedagang Memilih Buka Lapak di Lokasi Bekas Pasar Lama

Published

on

Silahkan share ke:

CE|Waisai- Pemerintah daerah didesak agar segera mencari solusi atas persoalan pedagang pasar yang kini kembali menggelar lapak di Pasar Mblin Kayam (Pasar lama) Kota Waisai.

Hasil penelusuran media ini di lapangan telah menemukan sejumlah persoalan, baik tuntutan maupun keluhan yang melatarbelakangi aksi para pedagang tersebut. 

Salah satu pedagang yang ditemui Jurnalis media ini, menyatakan alasan kenapa mereka bisa kembali membuka lapak di Pasar lama. Menurut dia, menurunnya daya beli masyarakat merupakan salah satu persoalan krusial yang dihadapi pedagang.

Selain itu, sarana yang disediakan pemerintah di Pasar Snon Bukor dinilai belum mumpuni. Ketersediaan lapak bagi pedagang juga masih kurang.

“Kami merasa rugi, daya beli menurun sehingga mempengaruhi kita punya pendapatan. Banyak barang jualan yang tidak terjual habis. Kerugian pedagang bukan sedikit, bahkan sampai jutaan rupiah,” ujarnya, Jumat (22/05/2026).

Sementara itu, Robby, salah satu warga kota Waisai mendesak pemerintah daerah agar dapat mencari solusi terkait persoalan tersebut. Dia menekankan agar Dinas terkait dapat menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar yang melatarbelakangi aksi para pedagang tersebut.

“Yang jelas pedagang tidak mau rugi. Pemerintah harusnya mengevaluasi kebijakan, dengan mendorong putaran perekonomian di titik sentral ibu kota Raja Ampat,” tegasnya.

Menurut pria lulusan S1 ilmu ekonomi itu, bahwa menurunya daya beli masyarakat dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya adalah Inflasi dan Lonjakan Harga.

Kata dia, kenaikan harga barang dan jasa pokok secara terus-menerus menyebabkan nilai uang menurun, sehingga jumlah barang yang bisa dibeli konsumen menjadi lebih sedikit.

Sementara faktor yang kedua adalah Pendapatan Riil yang menurun. Bagi dia, ketidakpastian ekonomi dan kebijakan efisiensi memiliki dampak besar kepada masyarakat. Selain itu, sedikitnya ketersediaan lapangan kerja juga berdampak langsung pada hilangnya atau berkurangnya sumber penghasilan masyarakat.

Disebutkan, semakin terbatasnya lapangan pekerjaan baru menurunkan potensi pendapatan masyarakat, yang berujung pada tertahannya pengeluaran untuk kebutuhan sekunder.

Faktor lainnya adalah Stagnasi Upah. Kata dia, kenaikan pendapatan masyarakat tidak sebanding dengan laju kenaikan harga kebutuhan pokok. Ini juga mempengaruhi daya beli masyarakat. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lainnya.

Ia menekankan perlu adanya kebijakan anggaran yang kompatibel, pemerintah harus mendorong program yang sudah ada pada tiap-tiap OPD sehingga bisa menimbulkan efek ke pasar. 

“Jika pemerintah lambat mengeksekusi program-program yang sudah ada, maka tidak ada transaksi, tidak ada aktivitas pembeli dan penjual. Dengan demikian, maka terjadi stagnasi,” terangnya.

Dia juga memaparkan bahwa, terlambatnya pembayaran gaji, upah ataupun tunjangan Pegawai dan Karyawan dapat mempengaruhi lambatnya putaran perekonomian di Raja Ampat.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *