Berita
Tokoh Pemuda Matbat Kecewa, Perahu Kajang Tak Masuk Lomba Perahu Hias Festival Pesona Raja Ampat 2026

CENDRAWASIHEKSPRES.COM, RAJA AMPAT – Festival Pesona Raja Ampat 2026 yang mengusung tema “Harmoni Bahari dan Budaya Maritim” mendapat sorotan dari Tokoh Pemuda Matbat, Hizkia Samagita, S.H. Ia menyayangkan tidak dilibatkannya tradisi perahu kajang milik masyarakat adat suku Matbat dalam lomba perahu hias.
Hizkia menilai, kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan panitia penyelenggara agar tema festival tidak sekadar menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat adat dalam mempromosikan kekayaan budaya Raja Ampat.
Sorotan tersebut dinilai semakin relevan dengan pesan Bupati Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, yang menekankan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan dan kegiatan daerah. Prinsip tersebut, menurut Hizkia, semestinya juga tercermin dalam penyelenggaraan festival budaya yang menggunakan anggaran daerah.
“Pesan Bupati Raja Ampat, Bapak Orideko Burdam jelas, jangan sampai masyarakat jadi penonton, pesan ini justru seharusnya diterjemahkan oleh Panitia,” kata Hizkia.
“Kalau kita berbicara tentang harmoni bahari dan budaya maritim, maka seluruh kekayaan budaya masyarakat adat harus mendapat perhatian. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, sementara tradisi yang mereka miliki tidak memperoleh ruang untuk ditampilkan,” tegas Hizkia.
Menurut Praktisi Hukum asal suku Matbat ini, Raja Ampat tidak hanya dikenal karena keindahan laut, pulau, dan keanekaragaman hayatinya, tetapi juga karena tradisi serta pengetahuan maritim masyarakat adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi perahu kajang, kata dia, merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Matbat yang layak diperkenalkan kepada wisatawan dan masyarakat luas.
“Festival Pesona Raja Ampat seharusnya menjadi panggung bersama untuk memperkenalkan seluruh kekayaan budaya masyarakat adat. Sangat disayangkan jika suku Matbat yang juga memiliki tradisi perahu kajang justru tidak dilibatkan,” ujarnya.
Tema Harmoni Bahari Harus Tercermin dalam Pelaksanaan
Hizkia menegaskan, tema “Harmoni Bahari dan Budaya Maritim” semestinya menjadi dasar bagi panitia untuk menghadirkan kegiatan yang memberikan ruang bagi berbagai tradisi maritim masyarakat adat di Raja Ampat.
Menurutnya, harmoni bukan hanya tentang kebersamaan dalam sebuah acara, tetapi juga tentang penghargaan terhadap keberagaman dan pemberian kesempatan yang adil kepada masyarakat untuk memperkenalkan identitas budayanya.
Budaya maritim, lanjutnya, tidak sebatas keindahan laut atau aktivitas wisata bahari. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, tradisi pembuatan dan penggunaan perahu, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama laut.
Karena itu, tidak terakomodasinya Way Atam menjadi catatan yang perlu diperhatikan agar promosi budaya Raja Ampat dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan untuk mengurangi ruang bagi suku lain, melainkan untuk memperkaya festival melalui keterlibatan lebih banyak komunitas adat.
Festival Ke-15, Perencanaan Panitia Dipertanyakan
Hizkia juga mempertanyakan apabila keterbatasan waktu menjadi alasan tidak dilibatkannya suku Matbat dalam lomba perahu hias.
Menurutnya, Festival Pesona Raja Ampat telah memasuki penyelenggaraan ke-15. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya semestinya menjadi modal untuk menyusun agenda yang lebih matang dan partisipatif.
“Kalau alasannya soal waktu, bagi saya itu sulit diterima. Ini bukan kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan, melainkan festival tahunan yang sudah memasuki tahun ke-15. Seharusnya ada perencanaan matang agar kekayaan budaya setiap suku di Raja Ampat bisa terakomodasi,” tegasnya.
Ia mendorong agar panitia melakukan pendataan terhadap tradisi budaya setiap suku, berkoordinasi dengan pemilik tradisi, serta melibatkan perwakilan masyarakat adat sejak tahap perencanaan.
Dengan langkah tersebut, potensi budaya yang dimiliki masyarakat tidak baru dipertimbangkan ketika rangkaian acara sudah disusun, tetapi telah menjadi bagian dari konsep festival sejak awal.
Menggunakan APBD, Masyarakat Harus Mendapat Ruang
Hizkia turut menyoroti penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Raja Ampat dalam penyelenggaraan Festival Pesona Raja Ampat.
Menurutnya, kegiatan yang menggunakan anggaran publik perlu dirancang secara terbuka dan partisipatif, dengan memperhatikan keberagaman budaya masyarakat yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Ia menjelaskan, hal tersebut tidak berarti setiap suku harus tampil dalam satu perlombaan yang sama. Namun, keseluruhan rangkaian festival seharusnya menyediakan ruang yang proporsional bagi berbagai komunitas adat untuk memperkenalkan warisan budayanya.
“Kalau kegiatan ini dibiayai dari APBD Kabupaten Raja Ampat, maka semestinya seluruh kekayaan budaya masyarakat adat mendapat perhatian. Jangan sampai ada tradisi yang terabaikan hanya karena tidak masuk dalam perencanaan kegiatan,” ujarnya.
Menurut Hizkia, masyarakat adat seharusnya ditempatkan sebagai pelaku utama pelestarian budaya, bukan sekadar penonton yang menyaksikan kegiatan promosi daerah.
Keterlibatan itu juga dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal kembali tradisi leluhur, menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Jadikan Bahan Evaluasi, Jangan Sampai Masyarakat Hanya Menjadi Penonton
Hizkia berharap pemerintah daerah dan panitia menjadikan persoalan ini sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan Festival Pesona Raja Ampat pada tahun-tahun mendatang.
Evaluasi tersebut, menurutnya, perlu mencakup pendataan budaya setiap suku, keterlibatan masyarakat adat sejak tahap perencanaan, penyediaan kategori kegiatan yang sesuai, serta pemerataan kesempatan dalam promosi budaya.
Ia menilai, keberhasilan festival tidak cukup diukur dari kemeriahan acara dan jumlah wisatawan yang hadir. Lebih dari itu, festival juga perlu dinilai dari sejauh mana masyarakat lokal terlibat dan memperoleh manfaat dari kegiatan yang membawa nama Raja Ampat.
“Jangan sampai festival yang mengangkat tema Harmoni Bahari dan Budaya Maritim justru melewatkan tradisi maritim masyarakatnya sendiri. Apalagi Bupati Raja Ampat juga menekankan agar masyarakat jangan sampai hanya menjadi penonton. Prinsip itu harus diwujudkan dalam kegiatan nyata, termasuk dengan memberikan ruang bagi tradisi Perahu Kajang milik suku Matbat,” tegas Hizkia.
Ia berharap, ke depan Festival Pesona Raja Ampat benar-benar menjadi panggung bersama bagi masyarakat adat, sehingga kekayaan budaya setiap suku dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata daerah.
Dengan demikian, semangat Harmoni Bahari dan Budaya Maritim tidak hanya terlihat dalam tema festival, tetapi juga diwujudkan melalui kebijakan, perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan yang menghargai keberagaman budaya masyarakat Raja Ampat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Daerah Maupun Panitia Penyelenggara Festival Pesona Raja Ampat 2026, Redaksi membuka ruang hak jawab.